Kebijakan Menaikan Bea Impor Film Asing : Bagi saya sudah benar

Posted: February 21, 2011 in Film, My Opinion
Tags: , , , , , , ,

Beberapa hari ini setelah ribut masalah kekerasan di berbagai daerah dengan isu Agama sebagai pokok masalah… terjadi pergesaran berita utama yaitu seputar pemilihan ketua PSIS dan peningkatan bea impor film asing. Untuk yang terakhir saya punya penilaian sendiri. Sebelumnya maaf untuk istri tercinta yang penggemar film asing… mungkin mas punya sedikit beda pemikiran.
Dalam lampiran Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) tentang Penetapan Sistem Klasifikasi arang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor memang disebutkan, bea masuk film sebesar 5–15 %. Aturan yang ditetapkan pada 22 Desember 2010 itu membedakan tarif berdasarkan ukuran, jenis, dan bahan film impor. Kebijakan bea masuk film impor tertuang dalam SE-03/PJ/2011 tentang Pajak Penghasilan (PPh) atas penghasilan royalti dan perlakuan pajak pertambahan nilai (PPN) atas peredaran film impor.
Bagi saya peningkatan bea impor film asing sudah tepat. Ada beberapa hal yang mandasari saya menilai hal tersebut tepat, yaitu :

1). Peningkatan bea impor film merupakan wujud proteksi terhadap film-film karya anak bangsa.
Dengan meningkatkan bea impor film asing maka sedapat mungkin akan meminimalisir masuknya film asing dan memberikan peluang kepada film lokal untuk mengisi pasar (bioskop) dalam negeri. Seperti diketahui saat ini bioskop kebanyakan memutar film asing. Sedangkan film dalam negeri yang notabene karya anak bangsa tersisihkan.
Peningkatan bea impor tersebut menurut saya paling tidak merupakan suatu wujud kepedulian pemerintah terhadap industri perfilman nasional. Dimana merupakan wujud proteksi terhadap film lokal terhadap sebuan film asing.

2). Diharapkan akan dapat mendorong Produktifitas dan Kualitas film dalam negeri.
Makin besarnya peluang film dalam negeri untuk mengisi jam tayang pada bioskop sedapat mungkin akan mendorong Produktifitas dan Kualitas Film lokal. Seperti kita ketahui produksi film bukanlah hal yang murah karena memerlukan biaya dan peralatan yang mahal. Produktifitasnya akan sangat tergantung pada income yang diperoleh Rumag Produksi terhadap film yang mereka produksi. Jika porsi penayangan dibioskop aja “hanya menjadi pelengkap” film asing, bagaimana mereka mampu menutup biaya produksi dan memperoleh keuntungan. Paling tidak dengan pembatasan tersebut saya berpikir akan mampu memberikan peluang mereka merebut pasar penonton dalam negeri. Namun tentunya juga dengan syarat peningkatan kualitas film dalam negeri.
Kualitas,…. Hal ini menjadi penting untuk mendapat minat penonton dalam negeri. Seperti kita ketahui sejak kebangkitan perfilman nasional, kalo ga salah mulai dengan Film Petualangan Sherina, AADC, dan yang lainya, produksi filma nasional cukup kembali bergairah dan tumbuh. Namun demikian babak selanjutnya, perfilman indonesia kembali larut dalam film-filma bertemakan cinta, sex dan horor yang memuakan. Ini menjadi jebakan maut bagi perfilman nasional, karena pada dasarnya penonton kurang meminati film-film bertemakan hal-hal tersebut (walaupun masih ada juga yang menonton). Penonton Indonesia saat ini sudah bergeser menjadi penonton cerdas yang memiliki selera berbeda yang cenderung pada film-film yang bertemakan, pengetahuan, petualangan, futuristik, fiksi, fiksi ilmiah dan film-film yang mempergunakan efek-efek yang canggih. Hal inilah yang mendorong lakunya film-film asing di Indonesia, karena memang secara kualitas baik cerita maupun penggarapan filmya jauh lebih baik dari film dalam negeri. Dengan makin besarnya peluang film lokal masuk dalam bioskop dalam negeri maka diharapkan akan mampu mendorong kreatifitas penulis-penulis skenario dan sineas-sineas lokal untuk dapat memproduksi film yang lebih bermutu.

3). Memaksakan Penonton Dalam Negeri untuk menonton Film Karya Anak Bangsa.
Walaupun saya akui film asing lebih berkualitas, namun ga ada salahnya juga menikmatif film-film lokal. Beberapa film dalam negeri juga tidak jelek-jelek amat, beberapa masih layak ditonton untuk penggemar film yang kritis. Bahkan beberapa film masih layak untuk ditonton bersama-sama dengan keluarga.
Hal ini diperlukan karena minat menonton film dalam negeri masih minim. Pengalaman saya berdua dengan calon istri (waktu itu masih calon), waktu menonton film dalam negeri “Romeo & JUliet” yang berkisah tentang kisah cinta antara suporter bola di Indonesia, penontonya hanya sekitar 8 orang termasuk kami. Sedangkan jika film asing meskipun tidak begitu bagus penontonya minimal setengah. Yahhhh…. begitu timpangnya minat menonton filma dalam negeri dibanding film asing.
Namun demikian “pemaksaan” menonton film dalam negeri tersebut tentunya harus disertai dengan beberapa hal yaitu : a). Peningkatan kualitas, 2). Peningkatan Fasilitas Menonton, dan 3). Penurunan Biaya (tiket). Khusus untuk yang 1 dan ke 3sangat diperlukan karena penonton tentunya tidak akan mau menonton dengan biaya yang mahal (setahu saya rata-rata XXI mematok tiket antara Rp. 20.000-Rp. 25.000) hanya untuk menonton film tidak berkualitas atau bahkan film “sampah”.

4). Multiplier Efect yang timbul akan besar terhadap industri perfilman dalam negeri.
Seperti diuraikan sebelumnya, peningkatan produktifitas rumah produksi akan sangat mungkin terjadi karena hal ini dimungkinkan untuk menjaring penonton yang memang penggemar film. Hal ini memberikan multiplier efect yang tidak kecil terutama dalam penyerapan tenaga kerja. Produksi film akan sangat menyerap SDM yang besar baik dari sisi artis dan aktor maupun tenaga produksi. Apalagi jika film yang diproduksi merupakan film kolosal. Hal ini merupakan nilai positif karena dapat menyerap tenaga kerja dalam negeri… dan sebagai catatan pada dasarnya pekerja film di Indonesia cukup banyak yang berkualitas.

5). Wujud Proteksi Pemerintah terhadap Budaya Nasional.
Seperti kita ketahui, tidak sedikit muatan budaya asing yang masuk melalui film-film asing yang beredar di dalam negeri. Memang tidak semuanya buruk. Namun demikian menilai terhadap tingkat pengetahuan pemnonton Indonesia yang rata-rata remaja dan bahkan pada beberapa kasus saya sering menjumpai anak-anak yang menonton film dewasa (bahakan sering saya menemui orang tua yang membawa anak balitanya menonoton film yang jelas-jelas bertuliskan DEWASA atau 18+). Makahal tersebut saya rasa juga relevan terutama untuk memberikan pengereman dan penyaringan terhadap film asing.

Menanggapi terhadap keberatan yang diajukan oleh pihak Motion Pictures Association of America (MPAA) selaku wakil produser film Hollywood (Amerika Serikat) dan keinginan untuk menghentikan impor film asing, begitu juga keberatan dari penggemar-penggemar film asing, saya rasa pemerintah tidak perlu takut, atau bahkan merevisi kebijakan tersebut. Kenapa demikian Indonesia adalah pasar yang sangat besar dan potensial bagi saya kemungkinan penghentian impor oleh pihak MPAA merupakan gertak sambal. Mereka tentunya tidak akan mau kehilangan pasar yang besar di Indonesia… Ingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar sehingga merupakan pasar yang potensial. Menurut perkiraan saya paling nantinya impor film asing akan tetap dilakukan sedangkan untuk mengimbangi biaya impor yang mahal maka tiket yang dinaikan oleh pihak bioskop. Saya rasa hal ini sesuai, dengan kata lain akan terjadi perbedaan tiket yang cukup antara film lokal dan asing, sehingga dapat mendorong minat untuk menonton film lokal. Sedangkan bagi yang menyukai film asing akan tetap dapat menonoton film asing, dengan konsekuensi harga yang lebih mahal, sehingga dalam menonton film pun akan lebih selektif dalam memilih film-film yang akan ditonton. Begitu juga pihak MPAA maupun bioskop juga akan lebih selektif dalam melakukan impor film asing.

Untuk Pemerintah : Jangan takut terhadap tekanan,… beri kesempatan terhadap Sineas dalam negeri dan Lindungi budaya dan SDM Indonesia.
Untuk para sineas Indonesia : AYO BERKARYA,….KAMI TUNGGU KARYA KALIAN YANG BERMUTU.
Yupppss… demikian pendapat saya MAJULAH PERFILMAN DALAM NEGERI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s